The Discovered Truth Of Her

olivia

Olivia tidak tahu apakah ia seharusnya bergembira atau sedih. Kabar yang baru saja ia dengar seakan tidak ia percayai. Bagaimana mungkin dirinya ternyata adalah anak seorang pengusaha kaya raya dari negeri seberang itu? Bukan cuma seorang pengusaha, tetapi milyuner! Kabar yang pernah ia dengar, kekayaan orang itu begitu berlimpah sampai tidak terhitung jumlahnya, bahkan ia merupakan orang terkaya di negeri seberang itu!

 

Olivia sendiri tidak terlalu tahu menahu tentang orang itu dan juga mengenai negeri dimana ia berasal. Selama ini ia hanya mendengar dari berita dan tidak pernah sekalipun ia menyangka bahwa ternyata sosok yang sangat dihormati itu adalah ayahnya!

“Apakah engkau yakin, Mary, kalau ia sungguh ayah kandungku?”
Sosok perempuan setengah baya di depannya itu mengangguk dengan yakin. “Ya, Olivia. Sejak engkau dilahirkan engkau dititipkan disini. Sebenarnya ayah kandungmu sudah berpesan sekian lama untuk aku mengatakan kebenaran ini pada saat engkau sudah beranjak dewasa dan telah dapat berpikir dengan akal budimu sendiri. Ia sudah berkata sejak dulu padaku bahwa kapan pun engkau dapat datang menemuinya…”
“Lalu mengapa engkau baru mengatakannya padaku sekarang, Mary? Dan kenapa orangtuaku sendiri tidak pernah mengatakannya padaku?”
“Selama bertahun-tahun aku selalu berpikir bahwa aku harus menunggu untuk saat yang tepat untuk mengatakannya… namun ternyata aku disadarkan bahwa tidak pernah ada yang dinamakan ‘saat yang tepat’ untuk menyampaikan kebenaran ini… kesempatan itu selalu ada, tetapi aku yang selalu menghindarinya Olivia… Maafkan aku…”

 

Olivia masih merenung, berusaha meresapi kata demi kata yang diucapkan oleh Mary yang telah dikenalnya sejak delapan tahun yang lalu ini. Mary adalah guru terbaik yang pernah dikenalnya sejak ia masih kecil hingga sekarang ia telah menjadi seorang gadis dewasa. Ia berbeda dengan guru-guru lainnya yang acuh tak acuh pada murid-muridnya. Mary selalu menyapa setiap muridnya dengan senyum yang hangat. Ia selalu menawarkan bantuan pada saat ada orang yang membutuhkannya. Bukan saja hanya berbasa-basi, tapi ia sungguh-sungguh melakukannya dengan mengorbankan waktu bersantainya.

 

“Jadi yang selama ini engkau sebut-sebut sebagai rahasia berharga yang terpendam itu, maksudnya adalah ini?”
Mary mengangguk dengan pelan. Ada rasa malu mengapa ia harus menutupinya selama ini namun ia juga bahagia pada akhirnya ia telah menyampaikan rahasia yang sesungguhnya tersebut. Sekarang adalah keputusan Olivia sendiri apakah ia mau menerima kebenaran itu atau tidak.
“Dan… kenapa orangtuaku tidak pernah mengatakannya padaku, Mary?”
“Mereka tentu tidak mau kalau engkau pergi dari mereka Olivia. Mereka tahu kalau engkau mengetahui siapa keluargamu sesungguhnya, engkau akan lebih memilih keluargamu itu daripada mereka”
“Hanya karena keluargaku yang sebenarnya itu kaya raya?”
“Bukan cuma itu Olivia…..”
“Kenapa?” tanya Olivia lagi dengan rasa penasaran.

“Karena mereka tidak ingin engkau tahu siapa yang sesungguhnya menyayangimu dengan kasih yang sempurna selama ini…”

“Maksudmu Mary…?”
“Sebenarnya engkau bisa bersekolah sampai sekarang juga karena ayah kandungmu yang membiayaimu… Ia yang sebenarnya selalu menjagamu. Yang kau panggil sebagai ayah dan ibu sekarang ini tidak lebih dari orang asing yang sesungguhnya tidak engkau kenal”
“Betulkah..? Aku pikir aku kenal dengan mereka… Bukankah aku bertemu dengan mereka tiap hari semenjak aku kecil dan mereka selalu memperhatikan kebutuhanku?”
“Olivia, pada saat engkau ingin baju baru atau buku sekolah yang penting, mereka meminjamkan uang mereka untuk engkau pakai dan pada batas waktu tertentu mereka menuntut engkau untuk mengembalikannya bukan?”

 

Olivia menundukkan kepalanya. Hal itu memang benar. Olivia sering bercerita membagikan kisah hidupnya pada Mary karena itu Mary tahu persis situasi dan kondisi keluarga Olivia yang sebenarnya. Olivia memang mengambil kerja paruh waktu untuk menghasilkan uang sendiri yang sebagian besar untuk ‘membayar kembali’ kebaikan orangtuanya itu.

 

“Tapi Mary, ada beberapa barang berharga yang aku miliki yang tersimpan di dalam lemari bajuku tanpa aku ketahui siapa yang memberikannya. Di antaranya adalah kalung dengan inisial namaku ini…”
Olivia berkata sambil menunjukkannya pada Mary. Kalung itu begitu indah, berinisialkan “O” dengan batu permata berwarna keunguan yang memukau. Di belakangnya terukir namanya, “Olivia”.
“…Seingatku aku telah memakainya sejak kecil. Orangtuaku pernah memintanya padaku beberapa kali sebagai bayaran untuk uang yang telah aku pinjam dari mereka. Tapi aku tidak pernah memperbolehkannya karena ini adalah barang kesayanganku dan aku selalu bilang kalau aku akan berkerja dengan lebih giat lagi biar aku bisa membayar mereka tepat waktu. Apapun itu asal bukan kalung ini”

 

“Pertahankan itu Olivia. Tindakanmu selama ini sudah benar. Itu adalah milikmu yang paling berharga karena itu adalah pemberian dari ayah kandungmu. Kalung itu yang menandakan bahwa engkau adalah anak kandungnya”
Mata Olivia berbinar-binar.
“Betulkah, Mary?”
Mary mengangguk dan tersenyum.

 

“Jadi.. selama ini adalah benar bahwa ayahku yang sesungguhnya yang selalu memperhatikanku…” ucap Olivia dengan pelan namun tersirat rasa terima kasih di dalamnya.
“Mary, pantas aku selalu merasa ada yang kurang. Aku tidak pernah merasa puas dengan kasih sayang dari mereka yang dari dulu aku anggap sebagai orangtuaku selama ini. Entah kenapa aku bisa merasakannya, Mary. Di saat aku bahagia, aku tetap merasa mereka tidak dapat mengerti perasaanku. Di saat aku sedih, aku semakin merasa ada celah yang kosong dalam hatiku yang seharusnya dapat diisi oleh sesuatu… atau seseorang… Tapi aku tetap merasa bukan mereka… Aku tidak tahu jawabannya, tidak sampai sekarang…”
Mary meraih pundak Olivia dengan lembut. Olivia menyenderkan kepalanya pada pundak wanita yang amat dipercayainya itu.
“Apa yang ada di hatimu itu tidak pernah berbohong Olivia… Yang dapat memenuhi celah kosong di hatimu itu hanyalah ayah kandungmu. Karena hanya ia yang mampu memberikanmu kasih yang sempurna itu, yang sesungguhnya selama ini telah engkau rasakan, namun engkau hanya belum tahu kebenaran itu…”

 

Hening. Olivia hanya dapat terdiam. Di dalam ruangan kecil di rumahnya itulah semuanya baru terungkap. Kebenaran yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia ketahui. Ia bersyukur akhirnya Mary memberitahukan hal itu padanya. Di tengah keheningan itu tiba-tiba hati hati Olivia terhentak. Ia kembali menegakkan kepalanya yang sebelumnya disenderkan di pundak Mary. Dirinya sekarang sudah mengetahui kebenaran itu dan ia tahu ada langkah selanjutnya yang harus ia buat.Ia harus membuat keputusan.

 

Akankah Olivia menemui ayah kandungnya? Beranikah ia menempuh perjalanan ke negeri seberang untuk menemuinya? Apa yang akan ia lakukan jika ia sudah bertemu dengan ayahnya? Mengapa ayahnya meninggalkannya pada waktu ia lahir?

 

Atau apakah ia akan bersikap pura-pura tidak tahu dan kembali ke kehidupan yang sebelumnya bersama orangtuanya? Memang ia masih harus berkerja kembali untuk membayar jasa orangtuanya, tapi bukankah dia sudah terbiasa dengan cara hidup seperti itu setelah sekian tahun?

Tapi….

 

Jika benar hanya ayah kandungnya yang sanggup mengisi celah kosong di hatinya selama ini…… Jika benar hanya ayah kandungnya yang dapat memberikan kasih yang sempurna itu…..

 

Olivia terdiam memikirkan keputusan yang akan diambilnya.

Advertisements

Share your experience in the comments box below :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s