“Dia…”

I’ve decided to put some of my writing pieces in this blog too πŸ™‚

I wrote this on February 20th 2009 and posted it first on my other blog (it’s more open to public as it is listed in one of Indonesian biggest blog community but pssstt… my identity in that blog still remains anonymous to this date πŸ˜› Someday I’ll let you know the address hihi…)

——

Ketika kubuka mataku, akankah engkau masih berada disana? Akankah masih kulihat kilau kulitmu yang menyejukkan hatiku? Masih dapatkah aku memegangmu? Memelukmu? Mengecupmu?

Apakah engkau merupakan bagian yang nyata dalam hidupku…? Apakah pertemuan kita seharusnya terjadi? Jika Tuhan memang serba tahu mengapa Ia tetap mengijinkan kita bertemu kalau pada akhirnya kita terseret dalam suatu hubungan yang tidak memungkinkan?

Setiap hari yang kujalani bersamamu indah pada awalnya. Namun lama kelamaan semua ternyata hanya nampak indah pada luarnya. Yang kurasakan sebenarnya rasa sakit. Perih. Pedih. Aku sudah tidak sanggup. Tapi aku tetap mempertahankan engkau. Karena engkau begitu indah…

Kudapatkanmu bukan dengan harga yang murah. Bukan dengan usaha yang mudah. Engkau begitu unik. Aku sadar benar tidak semua orang dapat memilikimu. Engkau mampu mewakilkan segala kepribadianku. Karena itu aku tidak rela melepaskanmu.

Bila aku berjalan bersamamu, semua orang memujiku. Memuji kepintaranku memilih. Memuji bahwa aku pantas bersanding denganmu. Aku tahu aku memang pantas. Tapi rasa sakit yang di kemudian hari kurasakan… Mungkinkah berjalan bersamamu kupertahankan hanya demi menjaga harga diriku…?

Tapi toh suatu hari akhirnya aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi. Engkau telah membuatku merasa begitu sakit hingga air mata itu tidak tertahankan lagi. Aku memutuskan aku tidak bisa berjalan bersamamu untuk waktu yang lebih lama lagi. Ini semua harus diakhiri. Aku tidak sanggup. Aku muak berpura-pura!

Kulupakan berapa harga yang telah kubayar untuk mendapatkanmu. Kulupakan betapa sulitnya aku menemukanmu di antara begitu banyak pilihan yang tersedia di depan mataku saat itu. Aku tidak sanggup lagi. Aku harus menghentikan semuanya ini, sesegera mungkin. Engkau hanya bisa menyakiti diriku. Engkau sudah tidak ada gunanya lagi. Mungkin lebih baik kurelakan kau untuk menjadi milik orang lain…

Dengan terseok-seok aku pulang ke rumah. Ketika kubuka pintu kamar, aku segera terduduk di pinggir ranjang dengan ringisan yang masih menghiasi wajahku. Inilah saatnya. Saat untuk melepaskanmu selama-lamanya. Aku tidak akan pernah bersamamu lagi!

Mungkin memang benar kata ibuku, bahwa engkau hanya manis untuk dipandang. Seharusnya aku mendengarkan nasihatnya dari dulu. Kuakui kebodohanku. Kulepaskan dirimu. Kusimpan engkau baik-baik di dalam kotakmu.

Goodbye my red stilettos…

Berjalan bersama dirimu memang menyenangkan, tapi aku tidak akan membiarkan kakiku menjadi seperti kaki Victoria Beckham pada akhirnya. Kaki yang dihiasi bunion yang sungguh terlihat tidak indah. Kenangan bersamamu begitu indah dan tidak akan kulupakan. Karena itu kutuangkan dirimu lewat untaian kata-kata di ceritaku ini…

Here "he" is...
Here "he" is...
Advertisements

Share your experience in the comments box below :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s